Senin, 07 Mei 2012

Jasa Internet dan Siaran Televisi Barang Mewah di Cidaun




  Banyak orang yang mengeluhkan fasilitas komunikasi dan media informasi di cidaun apalagi dalam hal Internet, tidak dapat disangkal memang pengguna internet di Indonesia semakin tahun terus bertambah begitu juga dengan pengguna internet di desa bukan hanya sekedar untuk mencari informasi atau media sosial di cidaun sendiri sudah ada beberapa orang yang memanfaatkan internet sebagai sarana berbisnis online, baik jasa ataupun menawarkan barang-barang, tetapi banyak sekali keluhan yang keluar dari para pengguna internet di desa khususnya cidaun. kurangnya pelayanan internet di daerah cidaun bukan karena tidak adanya penyedia jasa warnet ataupun komputer di setiap rumah melainkan karena Pt. Telkom Indonesia tidak menyediakan jaringan internet speedy untuk daerah cidaun sedangkan kecamatan lain seperti Sindangbarang, Tanggeung, Pagelaran sudah tersedia jaringan speedy dari Pt.Telkom Indonesia, banyak pengguna jasa inernet yang menggunakan layanan dial up dari modem menggunakan beberapa provider GSM ataupun CDMA tentunya dengan harga yang mahal dan kualitas yang ga begitu mendukung masyarakat desa (quota dibatasi bos).

  Sampai saat ini Pt. Telkom unit Tanggeung belum mengkonfirmasi sampai kapan situasi ini akan selesai (boro-boro speedy tiang sama kabelnya aja pada di copotin..!!!). Karena keterbatasan itu banyak masyarkat yang bingung dan merasa terisolasi dari perkembangan global yang rata-rata di daerah lain sudah dapat menikmati koneksi internet dengan kecepatan diatas 153 kbps sedangkan cidaun sampai saat ini dengan modem menggunakan kartu flexy berada di bawah 153 kbps, bayangkan saja ketertinggalan penduduk desa akan perkembangan informasi dan teknologi yang terpaut jauh dari masyarakat perkotaan. 

  Disisi lain pemerintah semangat-semangatnya menjalankan program internet masuk desa, nah saya kembai bertanya internet yang seperti apa untuk masyarakaat desa, apakah yang mampu membuka setengah jendela google atau mungkin bagaimana????. Patut diperhatikan karena baik yang berada diperkotaan maupun di desa semua sama, harus seimbang agar bangsa tersebut lebih kuat baik secara mental juga secara Ilmu Perkembangan Teknologi, bangsa untung kehidupan penduduk di desa juga berkembang. Bukankah "Bangsa yang kuat adalah bangsa yang maju baik secara mental maupun teknologi bukan bangsa yang kuat adalah bangsa yang penduduk kotanya maju". betuuuuullllll...????. 


  Selain internet hal lain yang juga membuat masyarakat pedesaan khususnya cidaun yaitu mengenai masalah siaran televisi dimana di cidaun hanya terdapat 4 chanel yang dapat ditangkap itupun harus bayar Rp.10000./ minggu kepada pihak yang membuat stasiun tv kabel lokal (orang cidaun menyebutnya Riley)  atau apabila ingin menikmati chanel sebanyak di wilayah perkotaan penduduk desa harus mengeluarkan uang sebesar Rp.700.000. untuk membeli satu unit peralatan parabola, mungkin bagi pembaca yang memiliki uang lebih jumlah segitu ga ada artinya tetapi berbeda bagi penduduk desa.

 Hanya orang-orang tertentu yang bisa menikmati  layanan parabola sedangkan yang lain......???, berbeda sekali dengan wilayah perkotaan bermodalkan sebuah antena atau kabel panjang 1 pesawat Tv sudah dapat menikmati pulahan chanel, berbanding terbalik dengan di desa dengan 700.000 baru bisa menikmati tontonan kaya di kota...!!:.(. Sebetulnya Kewajiban pemerintah baik daerah maupun provinsi untuk menyediakan layanan informasi yang kongkrit bagi penduduk desa bukan hanya wilayah perkotaan yang dibekali dengan sejuta media informasi yang kongkrit   pedesaan juga perlu agar setiap aspek menjadi seimbang.(red)

2 komentar:

  1. bukan hanya itu gan,, listrik juga sering sekali mati lampu,, saya punya usaha warnet,, bukan hanya koneksi yang lemot dan mahal, komputer juga banyak yang rusak karna sering mati lampu..
    haduuhhh minimal di cidaun jngan tiap hari lah ya mati lampunya nya lieur jadina teh...
    ( Curhat saalit hehe )

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke nanti kita bahas masalah itu...sekalian kita datengin kepala PLN cidaun biar kongkrit

      Hapus